.:: negeri lain ::.
My Iron Lung
you don't mean it but it hurts like HELL /my brain says I’m receiving pain / a lack of oxygen from my life support /my iron lung…
Sebermula seperti ada ribuan semut yang menggerogoti dada kiri, lalu merembet menuju dada kanan, lalu seluruh dada serasa sesak, panas dan kini telah menjadi sarang jutaan semut itu.
Saat aku batuk dan mengeluarkan riak berdarah, semut-semut itu tak mau juga keluar, hanya seperti berhamburan menyerbu ke lorong-lorong, katup katup dan tiap jengkal labirin dalam paru-paruku.
Sial…. seberapa panjang lagi umurku? Bukan kematian yang kutakutkan, tetapi ada banyak hal belum selesai kucatat dalam lembaran kertas yang kusimpan di laci kerjaku. Tulisan itu masih coret moret.
‘Tak ada kesempurnaan, sempurna itu milik Tuhan, yang diatas’ kata perempuan itu, yang kini tengah duduk tertutup tirai di sebelah ranjang rumahsakit tempat ku berbaring.
Telah 2 minggu, 3 hari aku berbaring di sini. Wajah letih perempuan yang duduk di balik tirai itu, meski tertutup tirai, aku seperti sudah bisa menebaknya,
Seorang dokter cantik memeriksaku. Sedikit melegakan, meski aku tak bisa berfikir untuk sekedar menggodanya lagi. Mana mau seorang dokter muda cantik dengan seorang laki-laki kurus kerempeng dengan paru-paru rusak, batuk-batuk, pucat dengan tiga orang anak dan seorang istri cerewet! Toh, istriku dengan muka letihnya dan seorang anak kembarku menunggu di ruang sebelah.
Rongent dikeluarkan. Sepasang gambar paru-paruku. Tidak kembar. tetapi paru-paru kiri berukuransan lebih kecil, mengkerut. Aku tertawa sambil batuk-batuk lagi dan sebuah cipratan darah lagi di telapak tangan. Bah. untuk mentertawai gambar paru-parukupun terasa sangat sakit. Seperti itukah gambar sarang ribuan semut itu bersembunyi?
Lalu dokter yang cantik muda itu mendekati istriku, mengatakan sesuatu. Aku selalu curiga pada dua orang perempuan yang bercakap-cakap kemudian menjadi akrab, kemudian mereka akan memulai membuka gosip yang seru saban hari tentang tetangga-tetangga mereka, laki-laki di dekat mereka dan mulai melupakan kesibukan yang lain yang lebih penting.
Muka istriku, perempuan dengan wajah letih itu memucat. Aku sudah menduka, apalagi kalau bukan sepasang paru-paruku, sepasang sarang ribuan semut yang menggerogotiku, mungkin lebiih tepatnya kini menjadi sepasang sarang ribuan belatung kecil-kecil yang seidikit demi sedkit menggeogoti, merayap di tiap rongga tubuh dan melahap apa saja dan mebuat selonsong tubuh kurus kering yang suka batuk-batuk yang belum menginjak usia 30 tahun yang belum bisa mengejar mimpinya untuk meneribitkan tulisannya itu akan usai dengan segera. Tapi saya cukup bahagia, seperti empat pasang mata anak kembarku. mereka tidak menangis. Mereka akan baik-baik saja. Setidaknya aku pernah merekam gambarku, catatan catatan perjalananku dalam sebuah laci yang kini menjadi laci milik mereka.
Lalu…. ribuan semut, ah, tapi lebih tepatnya ribuan belatung itu merayap lagi. Membelah diri menjadi ratusan, ribuan dan jutaaan kali. Aku batuk lagi. kini bukan darah lagi. tapi cairan kental hitam.
(in Memorian Salman)
rest in peace sobat, suami dari karibku
Botol Dalam Pasir
Pasir dalam gelas waktu, menghambur dalam plasmaku…. (Asmaradhana, Gunawan Muhammad)
Sudah sejak lama Angie mengoleksi pasir-pasir dari tempat-tempat yang pernah ia kunjungi. Pasir-pasir itu Angie tempatkan dalam botol-botol kecil. Ia tempelkan label kecil dalam botol-botol pasir itu.
Ini pasir pantai kuta dengan bulir-bulir yang lebih kasar dari memiliki , pasir dari pantai parangtritis, pasir dari pantai karimunjawa,
Ia pandangi deretan botol-botol kecil beraneka ragam dalam rak di kamarnya itu. Botol-botol itu berisi pasir-pasir yang kalau diteliti berbeda-beda baik itu warna maupun karakter bulir-bulirnya. Ada label kecil dengan torehan darimana pasir itu berasal. Pasir pantai anyer, berwarna putih kegelapan dengan dengan bulir-bulir yang kasar, pasir pantai kartini Jepara, pasir parangtritis yang hitam dan lembut, pasir pantai kuta yang paling putih dengan bulir bulir lebih halus, pasir pantai nusa penida yang hitam, pasir pantai ujung gelam di karimunjawa dan masih banyak lagi. Kesemuanya ada sekitar 56 botol kecil.
“Hey, sudah sebanyak itukah pantai-pantai yang kukunjungi”
Ia tercengang sendiri memandang pada deretan botol-botol beraneka ragam pada rak itu. Tak jarang ia ambil satu dua botol dari deretan botol itu, membukanya, meraba dan membauinya lekat-lekat. Kalau sudah begitu, pikirannya akan terbang pada saat dimana ia mengambil pasir itu. Pada orang-orang- yang pernah ia temui disana, jalan-jalan setapak yang menuju kesana, pohon-pohon kelapa, rumpun perdu, kapal-kapal yang tertambat, orang-orang di kampung nelayan, anak-anak kampung nelayan yang bermain-main pada jukung dan aroma laut yang amis.
“Apa gunanya kau kumpulkan pasir itu?
Berkali-kali orang-orang, bahkan suaminya sendiri menanyakan hal itu. Bahkan kalau ia sudah duduk termenung di deretan rak itu dan mengambil salah satu botol, membukanya, menuangkan isinya pada tangan, membauinya lekat-lekat, suaminya itu seakan-akan cemburu.
Berulang kali pula ia menjelaskan alasan koleksi botol-botol pasirnya itu, berkali-kali pula, dulu ibunya, pacarnya dan kemudian suaminya, sepertinya tetap tak memahaminya.
“Konon kalau menyimpan pasir ini, sewaktu-waktu kita pergi ke tempat itu lagi, kita masih akan mengingat tempat-tempat, peristiwa dan orang-orang disana?”
Ia percaya akan hal itu.
“Kamu tidak pernah bercerita soal pasir itu?”
Memang, botol-botol dalam pasir itu adalah susunan cerita. Sebuah portal waktu yang akan membawanya pada kenangan-kenangan manis saat dimana pada suatu ketika ia pernah menjejakkan kakinya disana, bermain-main pasir dan bertemu orang-orang.
***
